

Tunarungu (Hambatan Pendengaran): Definisi, Jenis, Dampak, dan Penanganannya
Table of content
- 1.Definisi Tunarungu/Hambatan Pendengaran
- 2.Klasifikasi Hambatan Pendengaran Berdasarkan Tipe dan Derajat
- 3.Berdasarkan Tipe Kerusakan (Lokasi Gangguan)
- 4.Berdasarkan Derajat Keparahan
- 5.Klasifikasi Berdasarkan Waktu Terjadi
- 6.Implikasi Terhadap Komunikasi
- 7.Dampak Sosial dan Emosional Tunarungu
- 8.Sumber dan Referensi
Tunarungu atau Hambatan Pendengaran merujuk pada kondisi hilangnya kemampuan mendengar, baik sebagian (kurang dengar/hard of hearing) maupun keseluruhan (tuli/deaf). Secara ilmiah, kondisi ini adalah gangguan pada fungsi sistem pendengaran yang menghambat kemampuan individu untuk memproses informasi dan bahasa melalui jalur pendengaran, yang secara signifikan dapat memengaruhi kemampuan komunikasi dan perkembangan bahasa.
Istilah “tunarungu” sendiri berasal dari kata “tuna” yang berarti kurang atau cacat, dan “rungu” yang berarti pendengaran, merujuk pada individu dengan keterbatasan pendengaran. Pemahaman ini sangat penting untuk memberikan dukungan dan intervensi yang tepat.
Definisi Tunarungu/Hambatan Pendengaran
Secara akademis dan klinis, tunarungu didefinisikan sebagai kondisi di mana seseorang memiliki ambang batas pendengaran (tingkat suara paling rendah yang dapat didengar) yang lebih tinggi dari batas normal.
- Dampak Utama: Dampak paling signifikan dari hambatan pendengaran adalah terhambatnya kemampuan komunikasi verbal atau lisan. Karena perkembangan bahasa dan wicara sangat erat kaitannya dengan kemampuan mendengar, individu tunarungu seringkali kesulitan dalam memahami pembicaraan orang lain (reseptif) dan menghasilkan bahasa lisan (ekspresif), yang kemudian dapat memengaruhi aspek kognitif, sosial, dan emosional.
- Fokus pada Informasi Verbal: Individu tunarungu kehilangan kemampuan untuk memproses informasi verbal dan bahasa secara efektif melalui pendengaran, yang memaksa mereka untuk lebih mengandalkan indra penglihatan, seperti membaca gerak bibir dan bahasa isyarat, untuk berkomunikasi.
Klasifikasi Hambatan Pendengaran Berdasarkan Tipe dan Derajat
Untuk tujuan diagnosis, intervensi, dan pendidikan, hambatan pendengaran diklasifikasikan berdasarkan tipe kerusakan dan derajat keparahan (diukur dalam desibel/dB).
Artikel Pilihan : Mengenal Lebih Dekat Tunadaksa (Hambatan Fisik): Pengertian, Jenis, dan Kebutuhan Layanan Khusus
1. Berdasarkan Tipe Kerusakan (Lokasi Gangguan)
Klasifikasi ini didasarkan pada bagian telinga mana yang mengalami kerusakan atau masalah:
- Gangguan Pendengaran Konduktif (Conductive Hearing Loss):
- Terjadi akibat adanya hambatan atau kerusakan pada telinga luar atau telinga tengah.
- Hambatan ini mencegah gelombang suara dihantarkan secara efektif menuju telinga bagian dalam (koklea).
- Contoh Penyebab: Penumpukan kotoran telinga, infeksi telinga tengah (otitis media), kerusakan atau robeknya gendang telinga, kelainan tulang-tulang pendengaran.
- Umumnya dapat diatasi dengan pengobatan, operasi, atau alat bantu dengar.
- Gangguan Pendengaran Sensorineural (Sensorineural Hearing Loss):
- Terjadi akibat kerusakan pada telinga dalam (koklea, khususnya sel-sel rambut) atau saraf pendengaran (Nervus VIII) menuju otak.
- Kerusakan ini mengganggu konversi gelombang suara menjadi sinyal listrik yang dapat dipahami oleh otak.
- Contoh Penyebab: Faktor genetik, proses penuaan (presbikusis), paparan suara keras jangka panjang, penyakit menular (seperti meningitis), obat-obatan ototoksik.
- Jenis ini biasanya bersifat permanen, intervensi seringkali melibatkan alat bantu dengar atau implan koklea.
- Gangguan Pendengaran Campuran (Mixed Hearing Loss):
- Kombinasi antara gangguan pendengaran konduktif dan sensorineural.
- Ini menunjukkan adanya masalah di telinga luar/tengah dan telinga dalam/saraf.
2. Berdasarkan Derajat Keparahan
Tingkat keparahan diukur menggunakan audiometri berdasarkan ambang dengar rata-rata (satuan dB Hearing Level/HL) pada frekuensi tertentu. Klasifikasi umum (bervariasi sedikit antar standar) adalah:
| Derajat Ketulian | Ambang Dengar (dB HL) | Karakteristik Pendengaran |
| Normal | 0 – 25 dB | Dapat mendengar semua bunyi percakapan biasa. |
| Ringan (Mild) | 26 – 40 dB | Sulit mendengar bisikan atau percakapan dari jarak jauh, terutama di lingkungan bising. |
| Sedang (Moderate) | 41 – 70 dB | Sulit mendengar percakapan biasa tanpa alat bantu dengar, sering memerlukan peningkatan volume. |
| Berat (Severe) | 71 – 90 dB | Hanya dapat mendengar suara yang sangat keras, hampir tidak dapat memahami pembicaraan tanpa alat bantu. |
| Sangat Berat (Profound) | $\ge 91$ dB | Tidak dapat mendengar percakapan sama sekali, bahkan suara yang sangat keras hanya dapat dirasakan sebagai getaran. |
Klasifikasi Berdasarkan Waktu Terjadi
Waktu terjadinya hambatan pendengaran memiliki implikasi besar terhadap perkembangan bahasa lisan:
Baca Selanjutnya : Tunagrahita (Pengertian, Karakteristik & Klasifikasi)
- Ketunarunguan Bawaan (Congenital): Terjadi sebelum atau saat lahir. Seringkali berdampak besar pada perolehan bahasa.
- Ketunarunguan Setelah Lahir (Acquired): Terjadi setelah lahir, bisa disebabkan oleh penyakit atau cedera.
- Prelingual: Terjadi sebelum anak mengembangkan kemampuan berbicara dan berbahasa.
- Postlingual: Terjadi setelah anak menguasai bahasa lisan (setelah usia 5-6 tahun). Individu ini cenderung memiliki kemampuan bahasa lisan yang lebih baik.
Implikasi Terhadap Komunikasi
Hambatan pendengaran membatasi akses ke bunyi bahasa, yang merupakan dasar dari komunikasi verbal. Oleh karena itu, bagi individu tunarungu, intervensi dini seperti pemasangan alat bantu dengar, implan koklea, dan/atau penggunaan Bahasa Isyarat sangat krusial untuk memfasilitasi komunikasi dan interaksi sosial yang optimal.
Dampak Sosial dan Emosional Tunarungu
Hambatan pendengaran tidak hanya memengaruhi pendengaran dan komunikasi, tetapi juga memiliki implikasi signifikan terhadap aspek sosial dan emosional individu, terutama karena komunikasi adalah fondasi interaksi sosial.
- Isolasi dan Keterbatasan Interaksi: Kesulitan dalam mengikuti percakapan di lingkungan ramai atau kelompok seringkali menyebabkan individu tunarungu merasa terisolasi atau menarik diri dari lingkungan sosial. Keterbatasan interaksi ini mempersempit dunia mereka, yang dapat membatasi pemahaman tentang norma sosial dan emosi orang lain.
- Kecurigaan dan Frustrasi: Karena sering salah menangkap informasi atau tidak mendengar sepenuhnya, mereka mungkin mengembangkan sifat mudah curiga (paranoia) terhadap orang lain. Frustrasi juga sering muncul, baik karena kesulitan berekspresi maupun kesulitan memahami lawan bicara.
- Kemampuan Intelektual: Meskipun tunarungu tidak secara langsung memengaruhi potensi intelektual (kecerdasan non-verbal seringkali normal), hambatan dalam perolehan bahasa verbal dapat menyebabkan keterlambatan dalam perkembangan akademik dan kosakata.
Sumber dan Referensi
Artikel ini disusun berdasarkan prinsip-prinsip audiologi dan pendidikan khusus, mengacu pada literatur akademik dan standar klinis internasional:
- American Speech-Language-Hearing Association (ASHA). (2020). Types of Hearing Loss. [Digunakan sebagai acuan untuk klasifikasi tipe gangguan pendengaran].
- World Health Organization (WHO). (2021). Deafness and Hearing Loss. [Digunakan sebagai acuan definisi global dan dampak].
- ISO (International Organization for Standardization) 389-1.Acoustics – Reference zero for the calibration of audiometric equipment – Part 1: Basic pure-tone audiometry. [Digunakan sebagai acuan standar pengukuran ambang dengar (dB)].
- Nofiaturrahman, H. (2018). Hambatan Komunikasi pada Anak Tunarungu. Jurnal Ilmiah Pendidikan Khusus. [Digunakan sebagai acuan hambatan komunikasi dan dampak].
- Susanti, L. (2012). Psikologi Perkembangan Anak Tunarungu. [Digunakan sebagai acuan definisi dan klasifikasi tunarungu].













