Anak Tunagrahita Berat: Pengertian, Ciri, Permasalahan, dan Strategi Penanganan

Anak Tunagrahita Berat: Pengertian, Ciri, Permasalahan, dan Strategi Penanganan

Definisi Anak Tunagrahita Berat

Anak tunagrahita berat adalah anak yang memiliki kemampuan intelektual jauh di bawah rata-rata, dengan IQ berkisar antara 20–35 menurut klasifikasi WHO dan AAIDD (American Association on Intellectual and Developmental Disabilities).

Mereka mengalami keterbatasan yang sangat signifikan dalam fungsi intelektual, perilaku adaptif, serta kemandirian hidup sehari-hari. Anak dengan hambatan intelektual berat biasanya membutuhkan dukungan dan pendampingan penuh sepanjang hidupnya.

Meskipun demikian, dengan pendekatan pendidikan khusus dan stimulasi yang berkesinambungan, anak tunagrahita berat tetap dapat mengembangkan kemampuan dasar seperti mengenal benda, merespons instruksi sederhana, dan berinteraksi secara sosial dalam batas tertentu.


Perbedaan Tunagrahita Berat dan Tunagrahita Sedang

AspekTunagrahita SedangTunagrahita Berat
IQ35–5520–35
Kemampuan AkademikMasih bisa diajarkan membaca atau berhitung sederhanaTidak mampu mengikuti pembelajaran akademik formal
BahasaMenggunakan kalimat sederhanaHanya mampu bicara satu-dua kata, kadang nonverbal
KemandirianDapat melakukan aktivitas ringan dengan bantuanSangat bergantung pada orang lain
SosialisasiDapat berinteraksi terbatasMembutuhkan latihan dan pendampingan penuh

Karakteristik Anak Tunagrahita Berat

Beberapa ciri umum anak dengan hambatan intelektual berat antara lain:

  1. Fungsi intelektual sangat rendah, kesulitan memahami instruksi bahkan yang sangat sederhana.
  2. Kemampuan bicara terbatas, sering kali menggunakan ekspresi wajah, suara, atau gerakan tubuh untuk berkomunikasi.
  3. Motorik kasar dan halus terganggu, berjalan tidak seimbang atau mengalami kekakuan otot.
  4. Kesulitan dalam mengurus diri sendiri, seperti makan, berpakaian, dan kebersihan diri.
  5. Respons terhadap lingkungan lambat, memerlukan waktu lama untuk mengenali orang atau benda.
  6. Daya konsentrasi sangat pendek, mudah kehilangan fokus.
  7. Membutuhkan bantuan total dalam aktivitas harian, baik di rumah maupun di sekolah.
  8. Emosi dan perilaku tidak stabil, terkadang mudah marah atau takut tanpa sebab jelas.

Permasalahan yang Dihadapi Anak Tunagrahita Berat

Anak dengan hambatan intelektual berat menghadapi tantangan yang kompleks, baik dari sisi medis, sosial, maupun pendidikan, di antaranya:


Lihat Juga : Anak Tunanetra: Pengertian, Ciri, Penyebab, dan Strategi Pendidikan Anak dengan Hambatan Penglihatan

  • Ketergantungan penuh pada pengasuh atau orang tua.
  • Kesulitan dalam komunikasi verbal maupun nonverbal.
  • Masalah kesehatan seperti gangguan motorik, epilepsi, atau gangguan pancaindra.
  • Perilaku maladaptif seperti menggigit diri sendiri, berteriak, atau menarik rambut karena frustasi.
  • Kesulitan bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
  • Kurangnya penerimaan sosial, sering dianggap tidak mampu oleh masyarakat.

Pendekatan Pendidikan dan Pembinaan

Pendidikan bagi anak tunagrahita berat tidak difokuskan pada kemampuan akademik, tetapi pada pengembangan fungsi dasar dan keterampilan hidup sehari-hari (life skill).
Berikut beberapa strategi yang dianjurkan:

  1. Program Pembelajaran Individual (PPI)
    Setiap anak memiliki kebutuhan unik, sehingga program belajar disesuaikan dengan kemampuan dan kondisinya.
  2. Latihan Fungsional dan Perawatan Diri
    Fokus pada kegiatan seperti makan sendiri, berpakaian, kebersihan diri, dan mengenal lingkungan.
  3. Stimulasi Sensorik dan Motorik
    Gunakan alat peraga yang bisa disentuh, didengar, atau dilihat untuk melatih respons dan konsentrasi.
  4. Pendekatan Komunikasi Alternatif
    Seperti PECS (Picture Exchange Communication System) atau bahasa isyarat sederhana untuk membantu komunikasi.
  5. Rutin dan Struktur yang Konsisten
    Anak tunagrahita berat merasa aman bila kegiatan dilakukan secara berulang dan terjadwal.
  6. Terapi Pendukung
    Melibatkan fisioterapis, terapis okupasi, dan terapis wicara untuk membantu perkembangan fisik dan komunikasi.
  7. Pendekatan Emosional dan Kasih Sayang
    Sentuhan emosional, kehangatan, dan penerimaan tanpa syarat sangat berpengaruh terhadap perkembangan mereka.

Peran Guru, Orang Tua, dan Lingkungan

  • Guru SLB berperan dalam memberikan stimulasi pendidikan dan pelatihan fungsional sesuai kemampuan anak.
  • Orang tua menjadi pendamping utama dalam pembiasaan keterampilan di rumah.
  • Masyarakat perlu meningkatkan pemahaman dan empati agar anak dengan hambatan intelektual berat diterima di lingkungan sosial.

Potensi dan Harapan

Walaupun anak tunagrahita berat memiliki keterbatasan, mereka tetap memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi. Dengan kasih sayang, perhatian, dan latihan yang konsisten, mereka bisa menunjukkan kemajuan dalam:

  • Mengenali orang di sekitarnya
  • Merespons dengan senyuman atau suara
  • Mengikuti kegiatan sederhana
  • Menunjukkan rasa sayang dan keterikatan emosional

Setiap perkembangan kecil adalah pencapaian besar yang patut dihargai.


Kesimpulan

Anak tunagrahita berat adalah individu dengan hambatan intelektual yang sangat signifikan, namun tetap memiliki hak untuk belajar, berkembang, dan bahagia. Dukungan dari keluarga, guru, dan lingkungan sangat menentukan keberhasilan mereka mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Pendidikan dan kasih sayang bukan hanya membantu mereka bertahan, tetapi juga meningkatkan martabat dan kebahagiaan hidupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *