

Anak Tunanetra: Pengertian, Ciri, Penyebab, dan Strategi Pendidikan Anak dengan Hambatan Penglihatan
Anak tunanetra atau anak dengan hambatan penglihatan adalah individu yang mengalami gangguan atau kehilangan kemampuan penglihatan, baik sebagian (low vision) maupun total (buta/totally blind). Kondisi ini menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam menerima informasi secara visual sehingga membutuhkan cara khusus dalam belajar, berinteraksi, dan beraktivitas sehari-hari.
Menurut Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif, anak tunanetra termasuk ke dalam kelompok anak berkebutuhan khusus (ABK) yang memerlukan layanan pendidikan khusus agar dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan dan potensinya.
Klasifikasi Anak Tunanetra
Secara umum, anak tunanetra dibedakan menjadi dua kategori utama, yaitu:
- Tunanetra Total (Totally Blind)
Anak dalam kategori ini tidak memiliki kemampuan melihat sama sekali, bahkan tidak dapat membedakan terang dan gelap. Mereka mengandalkan indra peraba, pendengaran, dan penciuman untuk mengenal lingkungan serta belajar. - Low Vision (Kurang Penglihatan)
Anak dengan low vision masih memiliki sisa penglihatan yang dapat digunakan untuk melakukan aktivitas tertentu, seperti membaca huruf besar, mengenali warna, atau melihat bentuk benda dari jarak tertentu dengan bantuan alat bantu optik seperti kaca pembesar atau kacamata khusus.
Ciri-Ciri Anak Tunanetra
Beberapa ciri umum anak dengan hambatan penglihatan antara lain:
Inspirasi Lainnya : Mengenal Autisme (Gangguan Spektrum Autisme): Gejala, Penyebab Ilmiah, Pengobatan, dan Strategi Pendidikan
- Sering menyipitkan mata atau mendekatkan benda untuk melihat.
- Tidak dapat mengenali wajah orang dari jarak yang wajar.
- Sering menabrak benda di sekitarnya atau berjalan hati-hati seolah takut jatuh.
- Mengalami kesulitan membaca tulisan kecil meskipun menggunakan kacamata.
- Terlihat tidak fokus saat melihat benda atau orang yang berbicara.
- Mengalami pergerakan bola mata tidak normal (nystagmus).
Jika anak menunjukkan beberapa gejala tersebut, perlu dilakukan pemeriksaan oleh dokter mata atau tenaga profesional agar mendapatkan penanganan dan layanan pendidikan yang sesuai.
Penyebab Anak Tunanetra
Penyebab hambatan penglihatan dapat berasal dari faktor sebelum lahir (prenatal), saat lahir (perinatal), maupun setelah lahir (postnatal), antara lain:
- Faktor Prenatal (Sebelum Lahir)
- Infeksi pada ibu hamil seperti rubella (campak Jerman).
- Kelainan genetik atau bawaan seperti retinitis pigmentosa.
- Kekurangan vitamin A selama kehamilan.
- Konsumsi obat atau zat kimia berbahaya oleh ibu hamil.
- Faktor Perinatal (Saat Kelahiran)
- Cedera kepala saat proses persalinan.
- Penggunaan alat bantu kelahiran yang tidak tepat.
- Kelahiran prematur yang menyebabkan gangguan pada retina.
- Faktor Postnatal (Setelah Lahir)
- Penyakit mata seperti glaukoma, katarak, atau infeksi kornea.
- Cedera fisik pada mata akibat kecelakaan.
- Kekurangan gizi, terutama vitamin A.
- Paparan cahaya berlebihan tanpa perlindungan.
Dampak Hambatan Penglihatan terhadap Perkembangan Anak
Hambatan penglihatan dapat memengaruhi berbagai aspek perkembangan anak, antara lain:
- Perkembangan Kognitif
Anak tunanetra cenderung kesulitan memahami konsep yang bersifat visual (warna, bentuk, jarak). Mereka belajar melalui pengalaman langsung, suara, dan sentuhan. - Perkembangan Sosial dan Emosional
Anak dengan gangguan penglihatan sering merasa terisolasi, kurang percaya diri, atau bergantung pada orang lain. Dukungan keluarga dan guru sangat penting agar anak merasa diterima. - Perkembangan Motorik
Keterbatasan penglihatan membuat anak tunanetra lebih berhati-hati bergerak dan memerlukan latihan khusus untuk mengembangkan keseimbangan dan orientasi tubuh.
Strategi Pendidikan bagi Anak Tunanetra
Pendidikan bagi anak tunanetra harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhannya. Beberapa strategi yang dapat diterapkan antara lain:
Jangan Lewatkan : Anak Berkebutuhan Khusus (ABK): Pengertian, Jenis, Ciri, dan Layanan Pendidikan Menurut Para Ahli
- Menggunakan Media Braille
Sistem huruf Braille membantu anak membaca dan menulis melalui sentuhan. Ini menjadi alat utama bagi anak tunanetra total. - Pemanfaatan Teknologi Asistif
Anak low vision dapat menggunakan alat pembesar elektronik, screen reader, audio book, atau komputer bicara untuk belajar. - Pendekatan Multisensori
Pembelajaran melibatkan berbagai indra — pendengaran, perabaan, dan penciuman — agar anak dapat memahami konsep secara menyeluruh. - Adaptasi Lingkungan Belajar
Ruang belajar sebaiknya bebas hambatan fisik, memiliki pencahayaan yang cukup, serta memberikan penanda taktil pada benda-benda penting seperti tangga atau pintu. - Dukungan Emosional dan Sosial
Guru dan teman sebaya perlu memberikan dukungan positif, membantu anak beradaptasi, dan mendorong rasa percaya diri dalam beraktivitas.
Peran Guru dan Orang Tua
Guru dan orang tua memiliki peran penting dalam mendampingi anak tunanetra agar tumbuh mandiri dan percaya diri. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Memberikan pelatihan orientasi dan mobilitas, seperti cara berjalan dengan tongkat.
- Menanamkan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari seperti makan, berpakaian, dan merapikan barang.
- Mengembangkan komunikasi interpersonal agar anak mampu berinteraksi sosial secara baik.
- Menumbuhkan motivasi dan semangat belajar melalui penghargaan kecil atas setiap kemajuan.
Kesimpulan
Anak tunanetra atau anak dengan hambatan penglihatan merupakan bagian dari anak berkebutuhan khusus yang memiliki potensi besar untuk berkembang apabila mendapatkan dukungan dan layanan pendidikan yang sesuai. Dengan pendekatan yang tepat, anak tunanetra dapat belajar, berprestasi, dan hidup mandiri seperti anak lainnya.
Sumber Referensi:
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2009). Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.
- Direktorat Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK). (2017). Panduan Penyelenggaraan Pendidikan untuk Anak Tunanetra. Kemendikbud.
- Hallahan, D. P., & Kauffman, J. M. (2014). Exceptional Learners: An Introduction to Special Education. Pearson Education.
- American Foundation for the Blind (AFB). (2020). Understanding Blindness and Low Vision.
- WHO (World Health Organization). (2021). World Report on Vision. Geneva: World Health Organization.
- Sutjihati Somantri. (2012). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: Refika Aditama.














