

Mengenal Lebih Dekat Tunadaksa (Hambatan Fisik): Pengertian, Jenis, dan Kebutuhan Layanan Khusus
Table of content
- 1.Pengertian Tunadaksa
- 2.Definisi Tunadaksa Menurut Para Ahli
- 3.🔬 Jenis-Jenis Utama Tunadaksa
- 4.Kelainan Sistem Saraf Pusat (Neuromuskuloskeletal)
- 5.Kelainan Sistem Muskuloskeletal (Tulang dan Otot)
- 6.🔎 Karakteristik Umum Tunadaksa
- 7.🧩 Kebutuhan Layanan Khusus bagi Penyandang Tunadaksa
- 8.Kebutuhan Medis dan Terapi
- 9.Kebutuhan Alat Bantu dan Adaptasi Lingkungan
- 10.Kebutuhan Pendidikan Khusus
- 11.Sumber
Istilah Tunadaksa merupakan sebutan yang merujuk pada kondisi seseorang yang mengalami hambatan fisik atau disabilitas fisik. Pemahaman yang tepat mengenai tunadaksa sangat penting untuk mewujudkan masyarakat yang inklusif dan memberikan dukungan yang sesuai.
Pengertian Tunadaksa
Secara etimologi, kata “tunadaksa” berasal dari dua kata: “Tuna” yang berarti rugi atau kurang, dan “Daksa” yang berarti tubuh. Dengan demikian, tunadaksa secara harfiah diartikan sebagai kondisi seseorang yang mengalami kekurangan atau kecacatan pada tubuh, terutama pada alat gerak.
Inspirasi Lainnya : Anak Tunanetra: Pengertian, Ciri, Penyebab, dan Strategi Pendidikan Anak dengan Hambatan Penglihatan
Secara umum, tunadaksa adalah kondisi disabilitas fisik yang disebabkan oleh kelainan, kerusakan, atau kecacatan pada sistem otot, tulang, persendian, dan/atau sistem saraf pusat yang memengaruhi fungsi gerak. Keterbatasan ini kemudian berdampak pada kemampuan individu untuk melakukan aktivitas fisik, bergerak (mobilitas), dan berkoordinasi secara normal, sehingga memerlukan layanan khusus atau adaptasi lingkungan.
Tunadaksa juga sering disebut dengan istilah lain seperti cacat tubuh, cacat fisik, atau disabilitas ortopedi (orthopedically handicapped).
Definisi Tunadaksa Menurut Para Ahli
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif, berikut adalah beberapa definisi tunadaksa atau disabilitas fisik dari berbagai sumber dan pakar di bidangnya:
Inspirasi Lainnya : Anak Tunagrahita Ringan
- Menurut Kneedler (dalam Kanarya, 2014):”Tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang, sendi, otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan khusus.” Definisi ini menekankan pada sifat kelainan yang permanen pada sistem gerak dan kebutuhan akan layanan spesifik.
- Menurut Karyana dan Widiati (dikutip dari sumber lain):Mereka mengartikan tunadaksa sebagai bentuk kelainan atau kerusakan pada sistem otot, tulang dan persendian yang dapat mengakibatkan terhambatnya mobilitas, koordinasi fisik, komunikasi, adaptasi, dan gangguan perkembangan keutuhan pribadi.
- Menurut Soemantri (2006):Tunadaksa adalah suatu keadaan rusak atau terganggu sebagai akibat gangguan bentuk atau hambatan pada tulang, otot dan sendi dalam fungsinya yang normal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penyakit, kecelakaan, atau pembawaan sejak lahir.
🔬 Jenis-Jenis Utama Tunadaksa
Secara garis besar, tunadaksa dapat dikelompokkan berdasarkan lokasi kerusakan yang menyebabkan hambatan fisik, yaitu:
1. Kelainan Sistem Saraf Pusat (Neuromuskuloskeletal)
Jenis ini disebabkan oleh kelainan atau kerusakan pada sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Dampaknya sering kali luas, meliputi gerakan, koordinasi, dan kadang-kadang kecerdasan.
- Cerebral Palsy (CP): Merupakan kelainan yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk bergerak, mempertahankan keseimbangan, atau postur tubuh. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh kerusakan otak yang terjadi sebelum, selama, atau segera setelah kelahiran. Gejalanya bervariasi, mulai dari gerakan yang tidak terkontrol hingga kesulitan berjalan.
- Stroke (pada anak): Gangguan suplai darah menuju otak yang menyebabkan kerusakan fungsi motorik.
- Spina Bifida: Cacat lahir di mana sumsum tulang belakang dan tulang belakang tidak terbentuk dengan benar, menyebabkan kelumpuhan atau kelemahan di bagian bawah tubuh.
2. Kelainan Sistem Muskuloskeletal (Tulang dan Otot)
Jenis ini berhubungan dengan kerusakan atau kelainan pada tulang, sendi, dan otot, tanpa melibatkan kerusakan serius pada sistem saraf pusat.
Rekomendasi Untukmu : Anak Tunagrahita Berat: Pengertian, Ciri, Permasalahan, dan Strategi Penanganan
- Poliomyelitis (Polio): Penyakit infeksi yang menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan permanen pada otot-otot tertentu, seringkali pada kaki.
- Amputasi: Kehilangan sebagian atau seluruh anggota gerak (tangan atau kaki) akibat kecelakaan, penyakit, atau bawaan sejak lahir.
- Distrofi Otot (Muscular Dystrophy): Kelompok penyakit genetik yang menyebabkan kelemahan otot progresif dan kehilangan massa otot.
- Deformitas Kongenital: Kelainan bentuk tubuh sejak lahir, misalnya kaki pengkor (clubfoot) atau kelainan tulang lainnya.
🔎 Karakteristik Umum Tunadaksa
Karakteristik penyandang tunadaksa dapat dilihat dari tiga aspek utama:
| Aspek | Karakteristik |
| Fisik/Fisiologis | Gerak anggota tubuh kaku, lemah, atau lumpuh. Postur tubuh tidak normal (misalnya bengkok/bungkuk). Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna. Kesulitan berdiri/berjalan/duduk dan memerlukan alat bantu. |
| Intelektual | Kecerdasan cenderung normal pada jenis yang tidak melibatkan saraf pusat (seperti Polio). Namun, dapat disertai gangguan perkembangan/intelektual pada jenis yang melibatkan kerusakan otak (seperti Cerebral Palsy). |
| Psikologis/Sosial | Cenderung merasa malu, rendah diri, dan sensitif. Memerlukan penyesuaian diri yang kuat untuk mencapai penerimaan diri dan adaptasi sosial. |
🧩 Kebutuhan Layanan Khusus bagi Penyandang Tunadaksa
Karena keterbatasan fisik yang dialami, penyandang tunadaksa memerlukan penyesuaian dan layanan khusus agar dapat berfungsi optimal dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat. Layanan ini mencakup beberapa bidang:
1. Kebutuhan Medis dan Terapi
- Fisioterapi: Untuk melemaskan otot yang kaku, meningkatkan kekuatan otot, dan menambah kelenturan gerak.
- Terapi Okupasi: Membantu mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari-hari (Activity of Daily Living/ADL), seperti makan, berpakaian, dan menulis.
- Pemberian Obat: Misalnya pelemas otot untuk meredakan kejang atau nyeri.
- Pembedahan: Diperlukan untuk mengoreksi atau memperbaiki kelainan ortopedi tertentu.
2. Kebutuhan Alat Bantu dan Adaptasi Lingkungan
- Alat Bantu Mobilitas: Penggunaan kursi roda, kruk, tongkat, atau alat penyangga tubuh (brace).
- Alat Bantu Ortotik/Prostetik: Penggunaan kaki atau tangan palsu (prostetik) atau alat bantu untuk menopang anggota tubuh (ortotik).
- Aksesibilitas Fisik: Penyesuaian lingkungan, seperti penyediaan rampa (jalur landai) di gedung, toilet yang dapat diakses kursi roda, dan tata letak perabotan yang memudahkan mobilitas.
3. Kebutuhan Pendidikan Khusus
Layanan pendidikan bertujuan agar mereka dapat menerima materi pembelajaran sesuai dengan kemampuan intelektualnya:
- Penempatan: Bisa di Sekolah Luar Biasa (SLB-D) atau sekolah inklusi dengan dukungan yang memadai.
- Modifikasi Kurikulum: Penyesuaian metode dan media pembelajaran yang meminimalkan hambatan fisik. Misalnya, memungkinkan penggunaan komputer atau asisten untuk menulis jika tangan terganggu.
- Pelatihan Bina Diri: Mengajarkan keterampilan mandiri (life skills) dalam merawat dan mengurus diri sendiri, seperti makan, minum, dan berpakaian dengan keterbatasan fisik.
Mengenal dan memahami tunadaksa bukan hanya tentang mengidentifikasi keterbatasan fisik, tetapi juga tentang mengakui potensi dan memberikan akses yang setara. Dukungan dari lingkungan dan ketersediaan layanan khusus menjadi kunci utama bagi penyandang tunadaksa untuk menjalani hidup yang mandiri dan bermakna.
Sumber
- Karyana dan Widiati. (dikutip dari berbagai sumber skripsi/jurnal).
- Kneedler. (dalam Kanarya, S. 2014. Jurnal).
- Soemantri. (2006).
- Efendi. (2008).
- Hello Sehat. Tunadaksa: Definisi, Jenis, Karakteristik, dan Perawatannya.
- Halodoc. Apa itu Tunadaksa? Ini Pengertian, Ciri-Ciri, dan Jenisnya.














