

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK): Pengertian, Jenis, Ciri, dan Layanan Pendidikan Menurut Para Ahli
Table of content
- 1.Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
- 2.Jenis-Jenis Anak Berkebutuhan Khusus
- 3.Tunanetra (Hambatan Penglihatan)
- 4.Tunarungu (Hambatan Pendengaran)
- 5.Tunagrahita (Hambatan Intelektual)
- 6.Tunadaksa (Hambatan Fisik atau Motorik)
- 7.Tunalaras (Gangguan Emosional dan Perilaku)
- 8.Autisme
- 9.Disleksia, Diskalkulia, dan Disgrafia (Kesulitan Belajar Spesifik)
- 10.Anak dengan Gangguan Konsentrasi dan Hiperaktivitas (ADHD)
- 11.Anak Berbakat Istimewa (Gifted and Talented)
- 12.Karakteristik Umum Anak Berkebutuhan Khusus
- 13.Prinsip Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
- 14.Peran Guru dan Orang Tua dalam Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
- 15.Kesimpulan
- 16.Sumber Referensi:
Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang memiliki karakteristik berbeda dari anak pada umumnya, baik dalam hal fisik, mental, intelektual, sosial, maupun emosional, yang memerlukan layanan pendidikan dan pendekatan khusus agar dapat berkembang secara optimal.
Menurut Kirk & Gallagher (1986), anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki perbedaan signifikan dalam hal kemampuan belajar atau perilaku sosial dibandingkan dengan anak seusianya, baik karena hambatan maupun karena kelebihan tertentu.
Sementara itu, Heward (2013) mendefinisikan anak berkebutuhan khusus sebagai “anak yang memiliki kebutuhan yang berbeda dari anak pada umumnya dalam hal belajar, tumbuh kembang, atau menyesuaikan diri terhadap lingkungan.”
Dalam konteks pendidikan di Indonesia, istilah ABK juga tercantum dalam Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif, yang menyebutkan bahwa anak berkebutuhan khusus adalah peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa.
Jenis-Jenis Anak Berkebutuhan Khusus
Menurut Direktorat Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Kemendikbud (2017), anak berkebutuhan khusus diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori utama berikut:
Baca Selanjutnya : Tunarungu (Hambatan Pendengaran): Definisi, Jenis, Dampak, dan Penanganannya
1. Tunanetra (Hambatan Penglihatan)
Anak yang mengalami gangguan atau kehilangan kemampuan melihat, baik sebagian (low vision) maupun total (buta).
👉 Ciri: sering menabrak benda, tidak dapat mengenali orang dari jauh, menggunakan indra peraba dan pendengaran secara dominan.
2. Tunarungu (Hambatan Pendengaran)
Anak yang kehilangan sebagian atau seluruh kemampuan mendengar sehingga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi secara verbal.
👉 Ciri: tidak merespons suara, sering memutar volume tinggi, menggunakan bahasa isyarat.
3. Tunagrahita (Hambatan Intelektual)
Anak dengan tingkat kecerdasan di bawah rata-rata yang disertai dengan keterbatasan dalam keterampilan adaptif (menurut American Association on Intellectual and Developmental Disabilities – AAIDD, 2010).
👉 Ciri: kesulitan belajar, lambat dalam memahami instruksi, dan butuh bimbingan intensif.
4. Tunadaksa (Hambatan Fisik atau Motorik)
Anak dengan kelainan atau gangguan fungsi tubuh (tulang, otot, atau saraf) yang menghambat mobilitas dan koordinasi gerak.
👉 Ciri: kesulitan berjalan, menulis, atau melakukan aktivitas motorik halus.
5. Tunalaras (Gangguan Emosional dan Perilaku)
Anak yang menunjukkan perilaku menyimpang dari norma sosial, sulit mengendalikan emosi, dan cenderung impulsif atau agresif.
👉 Ciri: sering marah tanpa sebab, sulit bekerja sama, menunjukkan perilaku melawan.
Baca Selanjutnya : Tunagrahita (Pengertian, Karakteristik & Klasifikasi)
6. Autisme
Gangguan perkembangan yang kompleks, meliputi hambatan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku yang repetitif.
Menurut DSM-5 (APA, 2013), autisme termasuk dalam Autism Spectrum Disorder (ASD) yang memiliki spektrum gejala bervariasi.
👉 Ciri: sulit berinteraksi sosial, memiliki rutinitas kaku, tertarik pada hal tertentu secara berlebihan.
7. Disleksia, Diskalkulia, dan Disgrafia (Kesulitan Belajar Spesifik)
Kelompok anak yang memiliki potensi intelektual normal, namun kesulitan dalam aspek tertentu seperti membaca, menulis, atau berhitung.
👉 Ciri: lambat membaca, tulisan sulit dibaca, salah menyalin kata, atau sulit memahami konsep angka.
8. Anak dengan Gangguan Konsentrasi dan Hiperaktivitas (ADHD)
Menurut Barkley (2014), ADHD ditandai dengan kesulitan mempertahankan fokus, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang tidak sesuai dengan usia perkembangan anak.
👉 Ciri: tidak bisa diam lama, sering berpindah kegiatan, dan sulit mengikuti instruksi.
9. Anak Berbakat Istimewa (Gifted and Talented)
Anak dengan kemampuan intelektual, kreatif, atau kepemimpinan di atas rata-rata. Meskipun tidak mengalami hambatan, mereka tetap termasuk ABK karena membutuhkan pendekatan pendidikan khusus agar potensinya tidak terhambat.
👉 Ciri: cepat memahami pelajaran, imajinatif, rasa ingin tahu tinggi, dan menunjukkan kreativitas luar biasa.
Karakteristik Umum Anak Berkebutuhan Khusus
Walaupun setiap jenis ABK memiliki perbedaan spesifik, menurut Sutjihati Somantri (2012), karakteristik umum mereka mencakup:
- Perbedaan kemampuan dalam belajar dan beradaptasi.
- Memerlukan layanan dan strategi pembelajaran khusus.
- Dapat menunjukkan potensi luar biasa di bidang tertentu.
- Membutuhkan dukungan lingkungan yang inklusif dan empatik.
- Rentan mengalami masalah sosial dan emosional jika tidak mendapatkan penerimaan dari masyarakat.
Prinsip Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
Berdasarkan pendekatan pendidikan inklusif (UNESCO, 2005), layanan pendidikan bagi ABK harus mengedepankan prinsip:
Lihat Juga : Apa Fungsi Manajemen
- Kesetaraan dan Aksesibilitas
Setiap anak berhak memperoleh pendidikan sesuai dengan kebutuhannya tanpa diskriminasi. - Individualisasi Pembelajaran
Program belajar disesuaikan dengan kemampuan, minat, dan hambatan setiap anak. - Lingkungan Belajar Inklusif
Anak ABK belajar bersama anak normal di lingkungan yang menerima perbedaan. - Kolaborasi Multi-Disiplin
Melibatkan guru khusus, psikolog, terapis, dan orang tua dalam menyusun rencana pembelajaran individual (Individualized Education Program / IEP). - Pemberdayaan Kemandirian
Tujuan utama pendidikan ABK bukan hanya akademik, tetapi juga kemandirian dan kemampuan sosial.
Peran Guru dan Orang Tua dalam Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
Menurut Friend & Bursuck (2012), keberhasilan pendidikan anak berkebutuhan khusus bergantung pada kerja sama antara guru, orang tua, dan tenaga ahli.
Peran tersebut meliputi:
- Guru: Menyusun rencana pembelajaran individual (RPI), melakukan asesmen berkelanjutan, dan memberikan pendekatan pembelajaran adaptif.
- Orang Tua: Memberikan dukungan emosional dan bimbingan di rumah.
- Sekolah: Menyediakan fasilitas ramah ABK seperti ramp, alat bantu belajar, dan lingkungan yang inklusif.
Kesimpulan
Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah individu dengan karakteristik dan kebutuhan yang berbeda dari anak normal, baik karena hambatan fisik, mental, emosional, maupun karena keistimewaan tertentu. Mereka membutuhkan layanan pendidikan yang adaptif, suportif, dan berorientasi pada pengembangan potensi diri.
Melalui kerja sama antara guru, orang tua, sekolah, dan masyarakat, anak berkebutuhan khusus dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berdaya saing, dan berkontribusi positif bagi lingkungannya.
Sumber Referensi:
- Kirk, S. A., & Gallagher, J. J. (1986). Educating Exceptional Children. Boston: Houghton Mifflin Company.
- Heward, W. L. (2013). Exceptional Children: An Introduction to Special Education. Pearson Education.
- American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).
- Barkley, R. A. (2014). Attention-Deficit Hyperactivity Disorder: A Handbook for Diagnosis and Treatment. Guilford Press.
- Sutjihati Somantri. (2012). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: Refika Aditama.
- Direktorat PKLK Kemendikbud. (2017). Panduan Pendidikan untuk Anak Berkebutuhan Khusus.
- UNESCO. (2005). Guidelines for Inclusion: Ensuring Access to Education for All.
- Friend, M., & Bursuck, W. (2012). Including Students with Special Needs: A Practical Guide for Classroom Teachers. Pearson.














