Kurikulum Merdeka: Pengertian, Struktur, dan Tujuan Revolusi Pendidikan Indonesia

Kurikulum Merdeka: Pengertian, Struktur, dan Tujuan Revolusi Pendidikan Indonesia

Dunia pendidikan Indonesia tengah mengalami transformasi signifikan dengan diperkenalkannya Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini bukanlah sekadar perubahan administratif, melainkan sebuah pergeseran filosofi mendasar tentang bagaimana proses belajar mengajar seharusnya berlangsung. Diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), kurikulum ini dirancang untuk mengatasi krisis pembelajaran (learning loss) dan menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih fleksibel, relevan, dan berpusat pada siswa.

Artikel ini akan mengupas secara detail dan jelas apa itu Kurikulum Merdeka, mengapa ia dibutuhkan, apa saja karakteristik utamanya, dan bagaimana strukturnya diterapkan.

Apa Itu Kurikulum Merdeka?

Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Sederhananya, kurikulum ini memberikan kemerdekaan atau otonomi lebih besar kepada tiga elemen utama:

  1. Siswa: Merdeka untuk memilih mata pelajaran sesuai minat dan bakatnya (terutama di fase SMA).
  2. Guru: Merdeka untuk mengajar sesuai tahap capaian dan perkembangan peserta didik (pembelajaran terdiferensiasi) serta menggunakan perangkat ajar yang paling sesuai.
  3. Satuan Pendidikan (Sekolah): Merdeka untuk mengembangkan kurikulum operasional sekolah (KOS) yang sesuai dengan visi, misi, dan sumber daya lokal.

Kurikulum ini sebelumnya dikenal sebagai Kurikulum Prototipe dan merupakan bagian dari kerangka besar kebijakan Merdeka Belajar yang digagas oleh Mendikbudristek Nadiem Makarim.


Lihat Juga : Mengenal Autisme (Gangguan Spektrum Autisme): Gejala, Penyebab Ilmiah, Pengobatan, dan Strategi Pendidikan


Mengapa Kurikulum Merdeka Diperlukan?

Implementasi Kurikulum Merdeka didasari oleh beberapa urgensi, terutama krisis pembelajaran yang diperparah oleh pandemi COVID-19.

  • Mengatasi Learning Loss: Kurikulum sebelumnya (Kurikulum 2013) dinilai terlalu padat konten. Kurikulum Merdeka fokus pada materi esensial (materi yang paling penting), sehingga guru punya waktu lebih untuk pendalaman, bukan sekadar “kejar tayang” materi.
  • Mengejar Ketertinggalan Literasi & Numerasi: Banyak studi menunjukkan kemampuan dasar literasi dan numerasi siswa Indonesia masih perlu ditingkatkan. Fokus pada materi esensial memungkinkan penguatan kompetensi mendasar ini.
  • Mengembangkan Karakter: Dunia kerja modern tidak hanya butuh nilai akademik, tapi juga soft skills seperti kreativitas, gotong royong, dan nalar kritis. Ini diakomodasi penuh dalam Kurikulum Merdeka.

Karakteristik Utama Kurikulum Merdeka

Ada beberapa pilar yang membedakan Kurikulum Merdeka dari kurikulum sebelumnya.

1. Fokus pada Materi Esensial

Kurikulum Merdeka menyederhanakan materi. Beban konten dikurangi agar siswa tidak terburu-buru. Tujuannya adalah pembelajaran yang lebih mendalam dan bermakna. Guru didorong untuk tidak hanya delivery materi, tetapi memastikan siswa benar-benar paham konsepnya.

2. Pembelajaran Berbasis Proyek (P5)

Ini adalah salah satu inovasi terbesar. Kurikulum Merdeka mengalokasikan waktu khusus (sekitar 20-30% jam pelajaran) untuk Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).

P5 bukanlah proyek untuk tugas mata pelajaran biasa, melainkan proyek lintas disiplin ilmu yang bertujuan membentuk karakter siswa sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila, yaitu:

  1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia.
  2. Berkebinekaan global.
  3. Gotong royong.
  4. Mandiri.
  5. Bernalar kritis.
  6. Kreatif.

Siswa akan belajar mengidentifikasi masalah di lingkungan sekitar (misal: sampah, bullying, toleransi) dan mencari solusi nyata melalui sebuah proyek kolaboratif.

3. Pembelajaran Terdiferensiasi dan Struktur Fase

Kurikulum Merdeka meninggalkan sistem penjurusan kaku (IPA/IPS/Bahasa) di SMA dan mengganti struktur berbasis kelas (Kelas 1, 2, 3) dengan Fase Pembelajaran.

Struktur Fase ini adalah:

  • Fase A: Kelas 1 – 2 SD
  • Fase B: Kelas 3 – 4 SD
  • Fase C: Kelas 5 – 6 SD
  • Fase D: Kelas 7 – 9 SMP
  • Fase E: Kelas 10 SMA/SMK
  • Fase F: Kelas 11 – 12 SMA/SMK

Tujuan dari sistem fase ini adalah untuk pembelajaran terdiferensiasi (dikenal juga sebagai teaching at the right level). Guru tidak lagi dipatok target materi berdasarkan kelas, tetapi berdasarkan Capaian Pembelajaran (CP) di setiap fase.

Jika ada siswa kelas 4 (Fase B) yang kemampuannya masih di level Fase A, guru berhak mengajar materi Fase A kepada siswa tersebut hingga tuntas. Ini memberikan fleksibilitas luar biasa untuk menyesuaikan materi dengan kesiapan belajar siswa, bukan usia kronologisnya.


Jangan Lewatkan : Mengenal Lebih Dekat Tunadaksa (Hambatan Fisik): Pengertian, Jenis, dan Kebutuhan Layanan Khusus

4. Fleksibilitas Bagi Guru dan Sekolah

Guru tidak lagi terikat pada satu buku teks. Pemerintah menyediakan Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang berisi ribuan referensi perangkat ajar, modul, dan contoh praktik baik yang bisa diadopsi atau diadaptasi oleh guru sesuai kebutuhan kelasnya.

Sekolah juga diberikan tiga opsi implementasi kurikulum sesuai kesiapannya:

  1. Mandiri Belajar: Masih menggunakan Kurikulum 2013, tetapi mulai menerapkan prinsip Kurikulum Merdeka.
  2. Mandiri Berubah: Mulai menerapkan Kurikulum Merdeka dengan menggunakan perangkat ajar yang disediakan.
  3. Mandiri Berbagi: Menerapkan Kurikulum Merdeka dan aktif mengembangkan perangkat ajarnya sendiri untuk dibagikan ke sekolah lain.

Struktur Kurikulum Merdeka di SMA

Salah satu perubahan paling kentara adalah di jenjang SMA (Fase E dan F).


Lihat Juga : Apa Fungsi Manajemen

  • Fase E (Kelas 10): Siswa mempelajari semua mata pelajaran dasar (mirip SMP). Belum ada penjurusan. Ini adalah fase fondasi agar siswa bisa mengenali minat dan bakatnya.
  • Fase F (Kelas 11 & 12): Siswa memilih mata pelajaran dari kelompok MIPA, IPS, Bahasa, dan Vokasi sesuai dengan minat mereka untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi atau berkarir. Tidak ada lagi sekat kaku “Anak IPA” atau “Anak IPS”. Siswa bisa saja mengambil Biologi (MIPA) bersamaan dengan Sosiologi (IPS) jika memang relevan dengan tujuannya.

Kesimpulan

Kurikulum Merdeka adalah sebuah lompatan besar dari pendidikan yang kaku dan sarat konten menuju pendidikan yang fleksibel, relevan, dan memberdayakan. Fokusnya bergeser dari “apa yang diajarkan” menjadi “bagaimana siswa belajar”.

Meskipun implementasinya penuh tantangan, seperti kesiapan guru dan infrastruktur, tujuan mulianya jelas: menciptakan generasi Pelajar Pancasila yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat, bernalar kritis, kreatif, dan siap menghadapi tantangan global. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan pendidikan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *