

Abses Anus: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Penanganannya
Apa Itu Abses Anus?
Abses anus adalah kondisi medis yang ditandai dengan penumpukan nanah di area anus atau rektum, biasanya akibat infeksi bakteri pada kelenjar anal. Kondisi ini termasuk masalah proktologis umum dan dapat menimbulkan rasa nyeri hebat serta ketidaknyamanan saat duduk, berjalan, atau buang air besar.
Jika abses tidak ditangani secara tepat, ia dapat berkembang menjadi fistula ani, yaitu saluran abnormal yang menghubungkan abses dengan permukaan kulit sekitar anus. Fistula ini sering memerlukan tindakan bedah lanjutan.
Baca Selanjutnya : Abdominal Migrain (Migrain Perut): Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Anatomi yang Terlibat
Untuk memahami abses anus, penting mengetahui struktur anal:
- Kelenjar anal: Terletak di sepanjang kanal anus, berfungsi mengeluarkan lendir untuk mempermudah buang air besar.
- Sphincter anal: Otot pengontrol keluarnya feses, terdiri dari internal dan eksternal.
- Jaringan perianal: Area di sekitar anus yang rawan infeksi jika terjadi luka atau iritasi.
Infeksi biasanya dimulai dari kelenjar anal yang tersumbat dan menyebar ke jaringan perianal, membentuk abses.
Penyebab Abses Anus
Abses anus disebabkan oleh infeksi bakteri yang masuk melalui kelenjar anal atau luka kecil di anus. Faktor risiko meliputi:
- Infeksi bakteri
Bakteri Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus sering ditemukan sebagai penyebab utama. - Penyakit radang usus
Pasien dengan Crohn’s disease atau ulcerative colitis lebih rentan mengalami abses akibat peradangan kronis pada saluran pencernaan. - Sistem imun lemah
Orang dengan diabetes mellitus, HIV/AIDS, atau penggunaan obat imunosupresan memiliki risiko lebih tinggi. - Trauma atau iritasi anus
Luka kecil akibat konstipasi kronis, gesekan, atau infeksi menular seksual dapat menjadi pintu masuk bakteri. - Kondisi medis lainnya
Hemoroid, fistula ani sebelumnya, atau infeksi kulit dapat memicu terbentuknya abses.
Gejala Abses Anus
Gejala abses anus bisa berkembang dengan cepat dan meliputi:
- Nyeri hebat di area anus, terutama saat duduk, berjalan, atau buang air besar.
- Benjolan kemerahan dan bengkak di sekitar anus.
- Demam dan rasa lelah akibat infeksi.
- Keluarnya nanah atau darah jika abses pecah.
- Pembengkakan kelenjar getah bening di panggul atau perineum.
- Kesulitan buang air besar jika abses menekan kanal anal.
Nyeri biasanya bersifat konstan dan memburuk saat duduk. Jika muncul gejala demam atau nanah yang keluar sendiri, segera konsultasikan dokter.
Diagnosis Abses Anus
Diagnosis dilakukan oleh dokter spesialis bedah atau proktologi. Metode diagnostik meliputi:
- Pemeriksaan fisik
Dokter memeriksa anus dan area perianal untuk mendeteksi pembengkakan, kemerahan, atau tanda infeksi. - Pencitraan medis
Pada abses yang dalam atau kompleks, dokter dapat menggunakan USG, CT scan, atau MRI untuk menentukan lokasi, ukuran, dan kemungkinan keterlibatan jaringan sekitarnya. - Tes laboratorium
Pemeriksaan darah dapat menunjukkan tanda infeksi, seperti peningkatan jumlah sel darah putih. - Pemeriksaan tambahan
Dalam kasus tertentu, anal fistulography dapat dilakukan untuk mendeteksi fistula yang menyertai abses.
Pengobatan Abses Anus
Penanganan abses anus harus segera untuk mencegah komplikasi serius. Terapi biasanya meliputi:
1. Drainase Abses
Insisi dan drainase merupakan metode utama. Nanah dibersihkan, dan abses dibiarkan mengalir agar infeksi mereda.
- Rawat jalan: Untuk abses kecil, prosedur dapat dilakukan dengan anestesi lokal.
- Operasi: Untuk abses besar atau dalam, anestesi umum digunakan.
2. Antibiotik
Pemberian antibiotik diberikan pada:
- Sistem imun lemah (diabetes, HIV).
- Infeksi meluas ke jaringan sekitarnya.
- Terdapat kondisi medis penyerta seperti penyakit radang usus.
3. Perawatan Pasca Operasi
- Menjaga kebersihan area anus dengan mandi sitz hangat.
- Menggunakan obat pereda nyeri sesuai resep dokter.
- Diet tinggi serat untuk mencegah konstipasi.
- Menghindari duduk terlalu lama pada minggu pertama pasca operasi.
Komplikasi Abses Anus
Jika tidak ditangani dengan benar, abses anus dapat menimbulkan komplikasi serius:
- Fistula Ani: Saluran abnormal yang menghubungkan anus ke kulit perianal.
- Infeksi meluas: Dapat merusak jaringan sekitarnya.
- Sepsis: Infeksi sistemik yang mengancam jiwa, memerlukan penanganan darurat.
- Rasa sakit kronis: Akibat jaringan parut atau fistula residual.
Pencegahan Abses Anus
Beberapa langkah pencegahan yang efektif:
Lihat Juga : Ablasi Retina: Penyebab, Gejala, dan Penanganannya
- Menjaga kebersihan anus setiap hari.
- Diet tinggi serat untuk mencegah sembelit dan trauma pada anus.
- Mengobati penyakit radang usus atau kondisi medis kronis secara rutin.
- Segera konsultasi dokter jika muncul gejala nyeri atau benjolan di sekitar anus.
- Hindari duduk terlalu lama dan lakukan aktivitas ringan untuk sirkulasi darah yang baik.
Kesimpulan
Abses anus adalah kondisi medis serius yang memerlukan penanganan cepat dan tepat. Pengetahuan tentang gejala, penyebab, diagnosis, dan pengobatan secara ilmiah sangat penting untuk mencegah komplikasi seperti fistula ani atau sepsis.
Jika Anda mengalami gejala nyeri hebat, bengkak, atau keluarnya nanah di sekitar anus, segera konsultasikan dengan dokter spesialis bedah untuk evaluasi dan perawatan yang tepat.
FAQ Singkat
1. Apakah abses anus bisa sembuh sendiri?
Tidak, abses anus biasanya memerlukan drainase oleh dokter. Antibiotik saja tidak cukup.
2. Apakah abses anus menular?
Tidak, abses anus tidak menular. Namun, bakteri penyebab bisa berkembang dari luka terbuka jika tidak dijaga kebersihannya.
3. Berapa lama penyembuhan abses anus?
Setelah drainase, luka biasanya sembuh dalam 2–4 minggu, tergantung ukuran abses dan kondisi pasien.
Sumber Referensi
- Mayo Clinic. Anal Abscess and Fistula.https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/anal-abscess/symptoms-causes/syc-20352164
- Cleveland Clinic. Anal Abscess and Fistula.https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21945-anal-abscess-and-fistula
- American Society of Colon and Rectal Surgeons (ASCRS). Guidelines for the Management of Perianal Abscess and Fistula-in-Ano.
- Lippincott Williams & Wilkins, Schwartz’s Principles of Surgery, 11th Edition, 2021.












